Social Media Buzzer

Social Media Buzzer adalah bentuk usaha optimasi dari seorang praktisi internet marketing dalam pemanfaatan social media secara digital.

Berikut ulasan yang pernah diberitakan di Koran MedanBisnis :

Seorang Buzzer Twitter ; merupakan sebutan yang lekat bagi para pelaku social media buzzer dengan mengandalkan social media yang sedang tren di kalangan netizen (masyarakat yang terhubung dengan internet dengan perangkat gadget) para social media buzzer dapat menjual jasa.

Mereka menjadi penyebar informasi berbayar (paid buzzer) dengan beragam bayaran sesuai jumlah follower dan komunitas pembacanya melalui media blog.

Menariknya menjadi buzzer juga dialami Wahyu Blahe, yang semula bekerja di Yellow Pages, sempat menjadi jurnalis dan akhirnya memutuskan menjadi fulltimer buzzer dan blogger dengan mendirikan website Ceritamedan.com

“Lumayan, saat ini sudah ada pemasang iklan tetap di website ini. Selain itu, akun Twitter @ceritamedan yang follower-nya mencapai 100 ribu lebih, lumayan sering mendapat klien untuk buzz event dan promosi produk,” kata Wahyu.

Dengan follower Twitter sebanyak itu, ditopang dengan jumlah hits website yang berkisar 8.000 klik per hari untuk saat ini, membuat Cerita Medan menjadi salah satu media buzzer yang lumayan ramai mendapat job.

“Dulu pertama-tama kali main jadi buzzer, sering mendapat bayaran yang terbilang harga rendah. Maklum, awak baru pemula waktu itu. Setelah tahu pasarannya, barulah perlahan-lahan mulai menyadari bahwa jumlah follower itu punya rating penentu harga,” ujar Wahyu Blahe, mantan jurnalis yang banting setir menjadi social media buzzer dengan mendirikan CeritaMedan.com

Wahyu Blahe mengaku, setelah tahu pasaran bayaran jasa buzzer, ia makin gencar memperbanyak follower. “Memang sekarang ini pun sudah banyak di internet yang menjual follower dengan harga bervariasi sejumlah follower yang kita butuhkan. Tapi, sebisa mungkin follower yang banyak itu datang secara alami,” sambung pria yang akrab disapa Blahe itu.

Social Media Buzzer
Social Media Buzzer

Saat ini dengan jumlah follower di atas 100.000 follower, Blahe dengan Cerita Medan lebih percaya diri menjual jasa sebagai buzzer. Ia pun mulai berani memasang tarif buzzing untuk sejumlah perusahaan yang ingin memakai jasanya. “Biasanya harga selalu bisa nego, kita sesuaikan dulu dengan kebutuhan pihak yang ingin menggunakan jasa kita,” kata Blahe. Ia pun memasang harga bervariasi, misalnya sekali kicau (tweet) Rp 50.000. Harga itu pun biasanya dia kemas dalam paket untuk beberapa kali Tweet atau bundling dengan pemasangan iklan di CeritaMedan.com.

Sebut saja misalnya satu perusahaan ingin memasarkan satu produk baru di Medan. Lantas, untuk menyasar pangsa pasar netizen, perusahaan tersebut menggandeng buzzer untuk promosi lewat social media dengan tujuan produk yang dipasarkan disebarluaskan secara alami. Tidak jarang pula perusahaan tersebut menyelenggarakan event secara bersamaan.

Buzzer tadi kemudian menyebarkan info produk tersebut pada saat, sebelum, sedang dan sesudah event digelar. “Semakin banyak follower tentu semakin banyak kemungkinan orang yang akan melihat kicauan kita di Twitter. Dari situ mereka akan dapat info, lalu menyebarkannya lagi, sehingga info itu semakin meluas,” kata Blahe.

Beberapa perusahaan yang telah menggunakan jasa Blahe dengan CeritaMedan, antara lain perusahaan operator seluler, event organizer, hotel dan sejumlah pelaku UMKM.

Nicholas Sitohang, seorang penggiat social media dan blog, mengatakan buzzer merupakan satu sisi positif social media, terutama twitter. Dikatakannya, apabila dimanfaatkan sesuai fungsinya, social media dapat menjadi media yang efektif untuk menghasilkan fulus dari dunia maya. “Selama ini mungkin orang beranggapan bahwa social media itu untuk sekadar media ekspresi, curhat atau jadi diari. Nggak salah juga sih. Tapi, rasanya kurang efektif kalau hanya digunakan untuk itu,” jelas Nicholas dalam sebuah kesempatan kepada MedanBisnis.

Menurut blogger yang akrab disapa Nich itu, saat ini ketika internet telah meningkat posisinya sebagai salah satu kebutuhan utama berkomunikasi, telah membuka peluang baru bagi para penggunanya. Dengan kata lain, internet juga memberi dua opsi, yaitu pengguna pasif yang hanya menyerap informasi, atau pengguna aktif yang selain menyerap juga menyebarkan atau bahkan meng-create.

“Contohnya blogger, itulah barangkali kenapa media online pernah disebut akan mengancam kelangsungan media cetak. Peran blogger dengan website pribadi, sebenarnya juga telah melakukan apa yang dilakukan jurnalis,” ujar Nich, penggiat IT yang merupakan seorang penggagas komunitas Blogger Sumut itu.

Bedanya, jurnalis menulis untuk media mainstream, sedang blogger lebih independen. Mereka tidak hanya menulis, tapi juga menjadi online marketer yang kerap dibayar untuk menyebarkan informasi-informasi berbayar. “Blogger yang sudah diakui reputasinya, umumnya akan dibayar dengan harga tinggi untuk satu pekerjaan review, bisa produk atau event, minimal Rp 500.000 per review.

Ada bahkan yang jutaan,” kata Nich yang juga telah menikmati bayaran dari media agency yang menggunakan jasanya untuk review dan buzz. “Namun perlu diketahui, menjadi blogger atau buzzer berbayar tidak diraih secara instan,” tutup Nich.

Menurut Agoez Perdana,seorang praktisi social media di Medan, profesi buzzer belakangan menjadi tren seiring dengan semakin tingginya pengguna internet yang menggunakan jejaring sosial. Saat ini, katanya, jutaan orang hampir terhubung dengan jejaring sosial yang tersambung melalui gadget, seperti smartphone.

Para pengguna inilah yang disebut netizen. Merekalah yang menjadi target para para pemasang iklan. “Peran buzzer ialah menjadi penyebar informasi yang sudah ditautkan melalui berbagai link, baik itu blog maupun kicauan di Twitter,” kata Agoez yang juga berprofesi sebagai jurnalis yang juga merupakan pengurus di Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Medan itu.

Menurut Agoez, sebagai praktisi media sosial, ia juga pernah memiliki “job” sebagai buzzer untuk keperluan promosi salah satu bank terkemuka Indonesia. “Lumayanlah bayaran, hitungan jeti (juta),” kata Agoez.

Sebagai buzzer, ia diminta pihak bank untuk menyebarkan informasi tentang sistem pembayaran elektronik yang sedang dikembangkan bank tersebut. Bagi Agoez, cara lain mendulang fulus dari jagad maya ini kini menjadi side-job yang tidak kalah menggiurkan.”Saya review dulu materinya di blog pribadi saya, kemudian linknya saya buzz di media sosial, Twitter,” jelas Agoez dalam satu kesempatan bersama blogger yang bergabung dalam komunitas Blogger Medan Community, belum lama ini.

Cukup mengiurkan menjadi buzzer bila dilihat dari penghsasilan yang didapat. Meski demikian, kata Agoez, tidak didapat secara instan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan para pemasang iklan untuk merekrut buzzer. Misalnya, jumlah follower Twitter buzzer. “Minimal 1.000 follower, baru perusahaan mau mempertimbangkan,” kata Agoez yang rutin menulis di blog pribadinya Agoezperdana.com dan Kabarmedan.com.

Kedua, memiliki reputasi yang bagus melalui tulisannya di blog dan bila punya blog, setidaknya mengisi blognya dengan konten berkualitas, orisinal (bukan copy paste) dan punya banyak pembaca setia. “Ya sedikit-dikitnya rating blognya 500 sampai 1.000-an kliklah per hari,” kata Agoez.

***Media Buzzer, Buzzer Twitter, Twitter Buzzer, Buzzer Media

Tulisan diatas hasil pemberitaan di surat kabar Medan Bisns, dan link beritanya seperti berikut :

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/07/21/107618/social_media_buzzer_menghasilkan_uang_dari_follower/

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/07/19/107352/social_media_buzzer_cara_mendulang_fulus_dari_jagad_maya/

Demikianlah informasi mengenai keunikan dari Seorang Buzzer, pergerakannya dengan sebutan Social Media Buzzer memberitahukan bahwa peluang untuk berpenghasilan itu bisa dari berbagai hal.

44 thoughts on “Social Media Buzzer

      1. Kayaknya perlu dibuat tips ampuh agar diterima camer sebagai menantu. Nanti aman deh, undanannya di tweet aja sama dipost diblog. Menghemat, itu bukti mantu hemat. Hahaha

  1. Memang menggiurkan bisnis yang satu ini kalau dikelola dengan baik, sy juga punya sodara yg coba2 dan memang lumayan penghasilannya tapi sayang dia masih fokus dengan pekerjaan offline jadi cari uang dar sosmed hanya dijadikan sambilan aja

  2. Saya banyak sekali belajar dari orang yang tidak pernah saya kenal sama sekali. Dari awal jumpa Om Blahe langsung memberikan aku air kehidupan, air pencerahan yang membuat aku membuka wacana tentang harta karun masa depan “Internet”.
    Dan sampai saat ini aku hanya bisa memberi kata “Terima Kasih” tidak lebih dari itu.

    Om Blahe maaf ya’ ;))

    1. Rudi kan udah jadi buzzer, melalui blog medanwisata.com nya telah banyak menularkan virus positif tentang wisata di Medan dan sumatera utara khususnya dan pelan2 untuk Indonesia ya kan 😀

  3. Banyak penyelenggara event sekarang yang lebih efektif menggunakan buzzer di media sosial daripada harus memasang iklan semisal billboard yang biayanya jauh lebih mahal… saatnya memasuki era digital marketing..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *